BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Praktik Kerja Industri merupakan salah satu bentuk
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para taruna SMK Negeri 3 Berau,
yang memadukan antara pendidikan disekolah dengan pendidikan didunia
usaha.Industri yang diperoleh dengan melakukan praktik kerja secara langsung
dan terarah untuk menambah keahlian tertentu.Tujuan utama pendidikan kejuruan
adalah mempersiapkan lulusan untuk dapat bekerja secara mandiri dan salah satu
syarat untuk memenuhi kelulusan.
Praktik kerja industri (PRAKERIN) dilaksanakan di UPTD. BB SAPAL Manggar Balikpapan, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dalam bidang pembenihan dan pemeliharaan dibawah pengolahan (pembinaan teknis administratif) Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Timur.
UPTD. BB SAPAL Manggar Balikpapan sebagai
tempat praktik kerja industri taruna/taruni
program keahlian Agribisnis Perikanan karena
sesuai dengan jurusan yang ditekuni. Di Balai
Benih SAPAL Manggar Taruna/I dibagi dalam
beberapa divisi yaitu bagian distribusi air
dan kualitas air, penanganan induk,
pemeliharaan larva, kultur plankton, kultur artemia
dan kultur murni. Dari beberapa divisi
tersebut penulis mendapatkan tugas pada bagian
pemijahan induk. Pemijahan induk mencakup
tentang bagaimana cara teknik memijahkan
induk dan penanganan
telur dengan baik agar mendapatkan
hasil yang memuaskan selama proses pembenihan.
B.
Tujuan Kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin)
1. Menambah
pengetahuan dalam usaha pembenihan udang windu.
2.
Mempraktikkan
teori yang telah dipelajari dibangku
sekolah.
3.
Mengetahui
sejauh mana peran BB
SAPAL Manggar dalam mendistribusikan benih Udang Windu bagi
masyarakat.
4.
Sebagai syarat
standar kelulusan sekolah.
C.
ManfaatKegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin)
1. Taruna dan Taruni mampu
menghadapi dan memecahkan persoalan yang muncul dilapangan dengan lebih bijak.
2. Taruna dan Taruni memperoleh
pengalaman bekerja dalam menangani budidaya/pembenihan udang windu.
3. Taruna dan Taruni mendapat pembelajaran sebagai
langkah awal untuk masuk dalam lingkungan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Taksonomi UdangWindu
(Penaeus monodon)
Menurut Darmono (1993),
taksonomi udang windu (Penaeus monodon) adalah sebagai berikut :
Phyllum
: Arthropoda
Sub
Phyllum
: Mandibulata
Class
: Crustaceae
Devisi
: Malacostraca
Ordo
: Decapoda
Sub
Ordo
: Natanita
Family
: Panaeidae
Sub
Family
: Penaenae
Genus
: Penaeus
Spesies
: Penaeus monodon
Udang Windu digolongkan dalam jenis organisme Eurihalin/ Organisme air
yang hidup dikisaran kadar garam 3 – 45 ppt (pertumbuhan yang optimal pada
salinitas 15 – 30 ppt). Organisme ini aktif pada malam hari, dan pada siang
hari lebih suka membenamkan diri ditempat yang teduh dan berlumpur.
Habitat
udang windu di alam yaitu diperairan payau dan laut, misalnya muara sungai,
pantai dan perairan dalam/laut dalam.Semakin dewasa udang maka semakin menyukai
hidup di dasar laut.Pada umumnya udang yang sudah dewasa biasanya pindah
perairan yang dalam dan hidup berkelompok.
Kulit atau cangkang udang windu
tidak elastis dan selalu berganti kulit selama masa pertumbuhan.Udang yang
berganti kulit biasanya tidak banyak bergerak dan bermata suram karena pengaruh
hormon pergantian mata udang.Frekuensi pergantian kulit udangtergantung pada
jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi.Usia dan lingkungan pada kondisi
yang baik maka udang windu dapat melakukan pergantian kulit setiap bulan
sekali. Semakin tua usia udang maka semakin jarang untuk berganti kulit dan
dalam habitatnya udang windu dapat mencapai ukuran panjang 27 cm.
B.
Pemijahan Udang Windu(Penaues
monodone)
Pemijahan udang windu (penaues monodon)
akan dilakukan setelah udang mengalami
matang gonad atau matang telur. Pemijahan udang
windu sebenarnya tidak jauh berbeda
dengan pemijahan ikan. Kegiatan ini pada
umumnya biasanya dilakukan pada saat
malam hari.
Pemijahan adalah proses perkawinan
bertemunya antara sel sperma dan sel telur. Induk
udang jantan mengeluarkan spermatozoa dari alat kelamin jantan (petasma)
kemudian memasukannya ke dalam alat kelamin (telichum) udang betina.
Setelah terjadi kontak langsung induk betina akanmengeluarkan sel telur
sehingga terjadilah pembuahan.
Pemijahan juga terbagi dua
yaitu pemijahan secara alami dan buatan
pemijahan secara alami maksudnya induk yang
didatangkan oleh nelayan dalam keadaan matang
gonad ataupun matang telur, Sedangkan
pemijahan secara buatan yaitu pemijahan
dengan cara mengablasi salah satu mata udang.
yang bertujuan untuk mempercepat proses
pematangan gonad pada induk udang.
Diperkirakan 1 ekor induk betina bisa
menghasilkan 200.000-500.000 butir telur.
C.
Morfologi Udang Windu (Penaeus
monodon)
Menurut Darmono (1993),
morfologi udang windu (Penaeus monodon) adalah sebagai berikut:
Keterangan :
1. Cucuk Kepala (Rostrum)
7. Usus (Gut)
2. Mata Majemuk (Proventriculus)
8. Perut
3. Antena
9.
Hepato Pancrease
4.
Mulut
10. Ekor (Uropoda)
5. Kaki Jalan (Periopoda)
11. Telson
6. Kaki Renang (Pleopoda)
12. Anus
|
Gambar 1. Morfologi Udang Windu
Fungsinya keterangan dari gambar .1
1.
Cucuk kepala (Rostrum)
berfungsi pertahanan diri terhadap pemangsa
atau predator.
2.
Mata berfungsi sebagai
alat penglihatan pada induk udang windu.
3.
Antena berfungsi
sebagai alat peraba pada udang untuk
mengaetahui lingkungan sekita\nya.
4.
Mulut sebagai digunakan
untuk makan.
5.
Kaki jalan
(periopoda) berfungsi untuk berjalan di dasar
perairan atau bak.
6.
Kaki renang
(pleopoda) berfungsi berenang diperairan.
7.
Usus (gut) berfungsi
mencerna makanan.
8.
Perut sebagai tempat menanpung
makanan udang.
9.
Ekor (uropoda)
berfungsi sebagai alat pembantu untuk berenang diperairan.
10.
Anus berfungsi
untuk membuang kotoran yang ada dalam
perut udang.
1.
Kriteria Induk Udang Windu(Penaeus monodon)
kriteria induk udang yang baik dalam proses produksi bisa
dilihat di tabel.1 yang ada di bawah ini,
Tabel 1.Kriteria Induk
Udang Windu.
Induk Jantan (♂)
|
Induk Betina (♀)
|
Umur 7-10 Bulan
|
Umur > 12 Bulan
|
Panjang tubuh 20-22 cm
|
Panjang tubuh 23-27 cm
|
Panjang kepala ±7 cm
|
Panjang kepala ±9 cm
|
Berat tubuh 100-120 gram
|
Berat tubuh 125-200 gram
|
2.
Jenis Kelamin Udang Windu
Alat kelamin betina bernama thelicum dan terletak diantara dasar sepasangkaki
jalan atau periopoda yang berfungsi untuk menyimpan
sperma.
Gambar 2. Alat kelamin induk betina
Ø Alat
kelamin jantan bernama petasma dan terletak pada pangkal kaki renangke-1 (satu)
yang berfungsi untuk mentransfer sperma.
Gambar 3. Alat Kelamin Udang Jantan
3.
Syarat Fisik yang Baik untuk Induk
Udang Windu
Beberapa syarat fisik yang harus
diperhatikan dalam melakukan seleksi pada induk udang windu (Penaeus monodon), yaitu
sebagai berikut:
a. Organ tubuh
harus lengkap.
b. Organ tubuh
tidak cacat.
c. Tubuh tidak ada
bercak hitam.
d. Punggung tidak
patah/retak.
e. Tubuh tidak
ditempeli parasit,
bakteri dan virus penyebab penyaki.t
f. Tidak ada luka
dalam.
g. Tubuh tidak
berlumut.
h.
Warna
tubuh induk udang
transparan.
4.
Kualitas Air untuk
Proses Pemijahan Udang Windu.
Berikut adalah beberapa parameter kualitas
airyang baik untuk proses pemijahan udang windu (penaues
monodon)
Tabel 2.Parameter Kualitas Air
Parameter Kualitas Air
|
Keterangan
|
Suhu
|
28
– 31°C
|
Salinitas
|
29
– 31 ‰
|
pH
meter
|
7
– 8,5
|
BAB III
METODE PRAKTIK
A.
Waktu dan Tempat
Kegiatan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) dilaksanakan di UPTD BB SAPAL
Manggar terhitung mulai padatanggal
14 Mei 2011 sampai dengan 14 Juli 2011.Kelurahan
Manggar, Kota Balikpapan,
ProvinsiKalimantan
Timur.
1.
Alat dan bahan
a.
Alat
Beberapa alat yang digunakan
selama proses pemijahan induk udang
windu (penaues monodon) sebagai berikut:
Tabel 1. Alat dan fungsinya
No
|
Alat
|
Fungsi alat
|
1
|
Refraktometer
|
Untuk mengukur
salinitas kadar garam dalam melakukan pemijahan udang windu, memiliki
panjang 20 cm memiliki lensa dan kaca prisma dan dapat mengukur kadar garam
dari 0 – 60 ppt
|
2
|
Thermometer
|
Untuk mengukur suhu,
memiliki nomor keterangan suhu 0 – 100 C
|
3
|
pH tes
|
Berbentuk seperti
tabung kecil mempunyai indikator warna pH Untuk mengetahui kenetralan
air
|
4
|
timbangan
|
Digunakan untuk menimbang pakan pada induk
udang timbangan yang digunakan timbangan duduk
|
5
|
Filter bag,
|
Menyaring kotoran pada saat proses
pengisian air.
|
6
|
Penjepit mata udang
|
Digunakan untuk memotong salah
satu mata
Udang
|
7
|
Seser induk
|
Digunakan untuk mengambil induk dengan ukuran
jaring seser 1 inci
|
8
|
Senter
|
Digunakan untuk penerangan saat proses
ablasi
|
9
|
HI Blow 100
|
Sebagai penyuplai oksigen dengan kekuatan
penyuplaiyan oksigen HP 90 watt
|
10
|
Ember
|
Untuk pengangkutan naupli. terbuat dari plastik
memiliki pegangan
|
11
|
Baskom
|
Penyimpanan sementara naupli, pada
saat proses penyiponan. Terbuat dari plastik berbentuk bulat.
|
12
|
Pompa air
|
Digunakan sebagai penyuplai air dan
mengalirkan air pada bak yang digunakan dalam proses produksi
|
13
|
Selang sepiral
|
Sebagai alat pembantu penyedot
naupli pada saat proses pemanenan naupli. Terbuat
dari plastik, berwarna biru dan terbuat dari plastik memiliki panjang 2-3
meter
|
14
|
Selang sipon
|
Digunakan untuk penyiponan kotoran yang ada
dalam bak induk udang
|
15
|
Beaker glass
|
Digunakan untuk sebagi alat
pengamatan telur udang yang telah menetas
berbentuk tabung terbuat dari kaca dan memiliki nomor indicator
|
16
|
Ciduk
|
Sebagai alat pengaduk telur induk
udang. Terbuat dari plastik berbentuk bulat
|
17
|
Glass sampling
|
Untuk mengambil sempel naupli yang
akan di hitung ukuran glass sampling 10 ml
|
18
|
Sendok
|
Sebagai alat penghitung naupli
|
19
|
Moulsa
|
Sebagai alat penutup bak pemijahan
|
20
|
Seser 200 mikron
|
Digunakan untuk alat pemanen naupli.
|
21
|
Bak pemijahan
|
Digunakan untuk tempat pemijahan yang terbuat dari fiber glass
|
b.
Bahan
Beberapa bahan yang digunakan
selama proses pemijahan induk udang windu (penaues
monodon) sebagai berikut:
Tabel 2. Bahan dan fungsinya
No
|
Bahan
|
Fungsi Bahan
|
1
|
Air
|
Sebagai media pemijahan induk udang
|
2
|
Erytromicine
|
Sebagai antibiotik pada induk udang
|
3
|
Cacing laut
|
Pakan pada induk udang di berikan pada saat
setelah induk di pindahkan ke bak penampungan induk udang
|
4
|
Deterjen
|
Membersihkan bak dan peralatan yang digunakan dalam proses
pemijahan
|
5
|
Induk udang
|
Sebagai bahan untuk dilakukan pemijahan
|
B.
Metode Kegiatan Praktik
1.
Pengamatan
Melihat dan memperhatikan para pembimbing lapangan
memberikan penjelasan mengenai proses pemijahan udang windu, agar dalam
melaksanakan proses pemijahan udang windu mendapatkan hasil yang diinginkan
2.
Praktik
Melakukan kegiatan pemijahan di awali dengan melakukan
berbagai kegiatan yaitu:
a.
PersiapanWadah
Wadah yang digunakan dalam proses pemijahan
berbagai macam. Sebelum dilakukan proses pemijahan pertama-tama harus di
bersihkan dengan menggunakan deterjen secukupnya wadah yang digunakan
diantaranya.
1)
Bak
penampungan air
Bak
penampungan air terbuat dari beton dengan kapasitas.±150 ton Wadah ini
digunakan untuk menampung air yang akan digunakan untuk proses produksi.
Sebelum digunakan bak penampungan air terlebih dahulu dicuci menggunakan
deterjen lalu dibersihkan menggunakan lap apabila kotoran tersebut mudah
dibersihkan, namun jika kotoran tersebut sulit dibersihkan maka untuk membersihkanya
menggunakan sikat. Kemudian dibilas dengan air bersih dandikeringkan hingga bau
deterjen tersebut hilang. Lalu di isi air untuk proses produksi.
2)
Bak
penampungan induk udang windu
Bak
penampungan induk udang windu terbuat dari semen/beton berbentuk persegi dan
memiliki ukuran 6m x 4m x 1,5 m.dengan kapasitas ±36 ton bak ini digunakan
untuk menampung induk yang akan dipijahkan. Sebelum digunakan terlebih dahulu
dicuci menggunakan deterjen secukupnya dan dibersihkan menggunakan lap dan
kotoran yang sulit dibersihkan seperti lumut maka dibersihkan menggunakan
sikat. Kemudian dikeringkan hingga bau deterjen tersebut hilang, dan di isi air
untuk digunakan sebagai penampungan induk.
3)
Bak
pemijahan
Bak
pemijahan terbuat dari fiberglass atau berupa tong-tong kecil, yang digunakan
untuk memijahkan induk udang windu yang telah MT (matang telur/matang gonad)
dengan ukuran tinggi ± 100 cm dan berkapasitas 345 liter. Sebelum
digunakan tong pemijahan dicuci terlebih dahulu menggunakan deterjen secukupnya
dan dibersihkan menggunakan lap kemudian dibilas dengan air bersih dan
dikeringkan hingga bau deterjen tersebut menghilang lalu di isi air dan diberi
aerasi.
4)
Bak
penetasan telur
Bak
penetasan telur terbuat dari fiberglass dan berbentuk kerucut dengan diameter
70 cm, dan tinggi 100 cm. bak ini digunakan untuk menetaskan telur hasil
perkawinan udang windu.Sebelum digunakan tong pemijahan dicuci terlebih dahulu
menggunakan deterjen secukupnya dan dibersihkan menggunakan lap kemudian
di bilas dan dikeringkan hingga bau deterjen tersebut menghilang lalu diisi air
untuk proses penetasan telur induk udang windu.
b.
Seleksi Induk
Udang Windu
Calon induk
udang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan
harus diseleksi terlebih dahulu agar dapat
diperoleh calon induk sesuai dengan
persyaratan dalam proses pemijahan. Calon induk yang tiba
pada pagi hari kurang lebih jam 9 pagi di tangkap satu persatu kemudian dilihat
tingkat kematangan gonadnya, apabila dibagian punggung sudah terlihat
telur yang berwarna hitam kecoklatan dan tebal maka induk tersebut memenuhi
persyaratan dalam proses pemijahan. Kemudian induk yang telah diseleksi dimasukkan
ke bak penampungan sementara. Setelah itu dibiarkan dan ditutup menggunakan
moulsa atau kain yang berwarna hitam sebelum dilakukan proses adaptasi cucihama
dan proses pemijahan.
c.
Proses cuci hama induk udang
Pada pukul 18:00 wita atau sore
hari dilakukan proses cuci hama induk udang dengan menggunakan bahan Erytromicine
dengan dosis 10 ppm. Erytromicine tersebut dituangkan ke dalam seser
yang berukuran 200 mikron lalu dikucek di dalam bak yang berisi induk
udang.setelahErytromicine sudah dikucek kemudian
diberikan aerasi selama kurang lebih 1 jam dengan tujuan agar Erytromicine
yang telah dimasukkan dapat larut dengan baik.Erytromicine berfungsi untuk membunuh sebagian
bibit penyakit yang ada pada permukaan tubuh udang. Kemudian bak kembali di tutup menggunakan
moulsa atau kain yang berwarnah gelap. sambil menunggu waktu di lakukan
pemijahan.
d.
Pemijahan
induk udang
Pada pukul 19:00 wita atau
1 jam setelah proses cuci hama induk yang sudah matang gonad
diambil menggunakan seser dan dibilas dengan air bersi agar kotoran yang
menempel dapat hilang Sebelum induk dimasukkan ke dalam bak pemijahan.
Setelah itu bak pemijahan ditutup menggunakan kain yang berwarna gelap
seperti warna hitam. induk udang benar-benar matang gonad diperkirakan akan
melepas telur pada malam hari dari jam 23.00-02-00. pada pagi hari dilakukan
pengontrolan induk yang telah melepas telurnya kemudian seluruh induk
dipindahkan ke bak penampungan induk/bak pemeliharaan induk. Parameter
Kualitas untuk pemijahan, suhu30˚C, salinitas29
ppt, pH 7.
e.
Penanganan
telur
Pada pukul 06:00 pagi
setelah induk di pindah lalu sisa-sisa kotoran atau placenta induk
udang yang menempel pada bagian dinding bak bersihkan menggunakan
lap, sedangkan kotoran yang melayang-layang di dalam bak di bersihkan
menggunakan seser khusus pembersih kotoran induk.
Setelah kotoran sudah
dibersihkan dan selama proses penetasa telur dilakukan pengadukan dengan
menggunakan ciduk setiap ½ jam sekali, telur yang terdapat dalam tong akan
menetas sebagian pada jam 12.00. setelah sebagian telah menetas pengadukan di
hentikan kemudian bak di tutup kembali menggunakan moulsa dan ditunggu hingga
esok harinya dilakukan proses pemanenan naupli.
BAB IV
KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTIK
A. Letak Geografis
Dilihat dari letak geografisnya,
UPTD Balai Benih Sentral Air Payau dan
Air Laut Manggar terletak dibagian tengah pantai
timur pulau Kalimantan tepatnya di wilayah
kota Balikpapan, dengan lokasi sebagai berikut:
·
Desa
: Manggar
·
Kecamatan
: Balikpapan Timur
·
Kota
: Balikpapan
·
Jarak dari Ibukota
Provinsi
: ± 112 km
·
Jarak dari pusat
kota
Balikpapan
: ± 17 km
·
Jarak dari bandara
Sepinggan
: ± 5 km
B. Bidang Usaha
UPTD BB Sapal Air Payau
dan Air Laut Manggar merupakan salah
satu unit plaksana teknis dan pengembangan
Balai Benih Sentral Air Laut dan Air
Payau Manggar di bawah koordinasi Dinas
Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kalimantan
Timur bekerjasama dengan pihak swasta
sebagai pengelola produksi benur.
C.
Struktur Organisasi UPTD BB Sapal
Manggar, Balikpapan
Ir. R. Aj. Esti Wahyuni, M.Si
Kepala UPTD BB SAPAL
|
Ir.
Arie Subowo
Ka.
SUB TU
|
Ir. Farid Wajdi Rahim, MP
Ka.
Prod Benih dan Induk
|
Endang Sri Hastuti, A,Pi
Ka. Standarisasi Mutu Benih
|
Kegiatan Administrasi
|
Kegiatan Teknis
|
Petugas
Urusan Pompa Air
Rubby Andrie
|
Petugas
Urusan Umum Adm
a.
Rolian Junaidi, S.St
b. Diana Sariana Ria
|
Petugas
Pemeliharaan Induk
Andi Sudarto
|
Petugas
Urusan Mesin
Sopar
Sarumpaet
|
Petugas
Urusan Keuangan
Saidillah
|
Petugas
Urusan Kepegawaian
Mei Lien Syukri
|
Petugas
Alat Pembenihan
a.
Anam Sudarto
b. Marjuki
|
Petugas
Urusan Perlengkapan
Hamdani
|
Petugas Kultur Artemia & Plankton
a. Riki Aprianto
b.
Sabriansyah
|
Petugas Jaga Malam
Sudarji
|
Petugas
Pemeliharaan Larva
a.
Abdullah BR, S.Pi
b. Fandi Suroko
|
Petugas
Laboratorium
Rudi Kusuma
|
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pelaksanaan kegiatan praktik kerja industri
(Prakerin) pemijahan induk udang windu di UPTD BB
SAPAL Manggar diproleh pemijahan induk udang windu sebagai berikut:
1. PenangananIndukUdangWindu
a. Pada jam 09:00 induk yang datang
kemudian di seleksi induk
b. Pada jam 18:00 sore hari di lakuakan
proses cuci hama pada induk udang menggunakan bahan Erytromicinedengan
dosis 10 ppm.
2. Proses PemijahanInduk Udang
a. Pada jam 19:00 induk matang gonad
dipindahkan pada bak pemijahan
Table 3.data pemasukan induk udang
Tanggal
|
Indukmatang gonad
|
29 mei 2011
|
10 ekor
|
31 mei 2011
|
24 ekor
|
6 juni 2011
|
7 ekor
|
Jumlah
|
41ekor
|
b. Induk yang benar-benar matang gonad
diperkirakan melepas telurnya kurang lebih 4 – 8 jam setelah induk dipindahkan
ke dalam bak pemijahan.
c.
Induk melepas telur
ditandai dengan buih berwarna orange pada air dan dinding bak. Jumlah induk
yang melepas telu ryaitu 34 ekor induk, sedangkan induk yang tidak melepas
telurnya yaitu 7ekor dari total induk yang digunakan sebanyak 41 ekor.
3. Penanganan telur
a. Pagi hari dilakukan pengontrolan dan
pemindahan induk udang ke bak pemeliharaan induk, Pembersihan placenta
pada dinding bak penetasan telur.
b. Pengadukan telur setiap setengah jam
skali
c. Sebagian telur akan menetas ± 6 s_d 24 jam menjadi naupli.
B. Pembahasan
1. Penanganan induk udang windu
Induk yang datang kemudian diseleksi. induk udang satu
persatu ditangkap untuk melihat tingkat kematangan gonadnya. Apabila pada
bagian punggung udang sudah terdapat telur yang berwarna hitam kecoklatan dan
tebal maka induk memenuhi syarat dalam proses pemijahan.
Setelah dilakukan seleksi induk dilakukan cucihama dengan
menggunakan bahan Erytromicine dosis 10 ppm. Erytromicine
dituangkan kedalam seser kemudian dikucek. Lalu diberi aerasi selama kurang
lebih 1 jam agar Erytromicine dapat terlarut dengan baik. Erytromicine
berfungsi membunuh sebagian bibit penyakit pada permukaan tubuh udang windu.
Bak ditutup kembali sambil menunggu waktu pemijahan.
2. Pemijahan induk udang windu
Induk udang tersebut sebelum dipindahkan ke bak pemijahan
terlebih dahulu dibilas dengan menggunakan air bersih untuk membersihkan
kotoran yang ada disekitar permukaan tubuh induk udang. Setelah dibilas
kemudian di pandahkan kedalam bak pemijahan dan ditutup menggunakan kain yang
berwarna gelap atau kain yang berwarna hitam.
Induk yang benar-benar matang gonad diperkirakan akan
melepas telurnya ± 4 s/d 8 jam
Induk yang telah melepas telurnya biasanya ditandai dengan
adanya placenta yang berwarna orange menempel pada dinding bak atau yang
melayang-layang di dalam bak, Sedangkan induk udang yang tidak melepas telurnya
masih terlihat telur yang ada pada punggung udang
berwarna hitam kehijauan,
biasanya disebabkan karena induk
yang belum mengalami tingkat kematangan gonad yang tidak baik masih dalam tahap
tingkat II telur yang ada pada punggung udang masih tipis. Kualitas air
juga sangat berpengaruh bagi proses pemijahan. Kualitas
untuk pemijahan adalah, suhu 30˚C, salinitas29ppt, pH
7.
3. Penanganan telur
Setelah induk telah di pindahkan kedalam bak penampungan induk kemudian
dilakukan pembersiahan kotoran atau placenta yang menempel pada dinding bak
ataupun yang melayang-layang di dalambak. Kotoran yang menempel pada dinding
bak dibersikan menggunakan lap, sedangkankotoran yang melayang-layang di dalam
bak dibersihkan menggunakan seser khusus pembersih kotoran induk udang. Setelah
selesai membersikan
kotoran induk udang, kemudian
di lakukan pengadukan teluru dengang menggunakan ciduk. Setiap setengah jam
sekali. Pengadukan ini bertujuan agar telur tidak memgendap di dasar bak atau
wadah. Sebagian Telur
diperkirakan akan menetas pada jam 12:00 keesokan harinya. Setelah sebagian
telur telah menetas pengadukan pun dihentikan. Kemudian bak kembali ditutup
menggunakan moulsa atau kain yang berwarnah hitam.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Dari hasil kegiatan praktek
kerja industri dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Kelengkapan
sarana dan prasarana penunjang sangat berpengaruh dengan keberhasilan produksi.
2.
Kualitas
air yang baik sangat menentukan suksesnya suatu proses pemijahan Udang windu.
3.
Dalam
peroses pemijahan
udang windu terjadi kegagalan akibat induk yang belum matang
gonad yang maksimal misalnya telur yang ada di punggungnya masi tipis atau
tingkat II.
4.
Induk yang benar-benar
matang gonad di perkirakan akan melepas telurnya pada jam 23:00-03:00
B.
Saran
Selama pengamatan dan hasil
kegiatan prakerin di BB SAPAL manggar, balikpapan yang perlu diperhatikan
adalah :
1.
Sarana-sarana
penunjang seperti alat-alat hartus selalu dirawat dan dibersihkan demi untuk
kelancaran produksi.
2.
Wadah yang di gunakan
harus di perbanyak lagi agar mempercepat dalam proses pemijahan
3.
Transportasi dilengkapi untuk
memperlancar jalannya proses produksi
DAFTAR PUSTAKA
Morfologi
dan Klasifikasi Udang Windu. 2009. (Available on-line up date at http://ardivedca.blogspot.com/makalah-budidaya-pakan-alami_08.html) (verified, 21 Oktober 2011).
Darmon.
1993. Pemjahan Udang Windu (Penaeus monodon). (Available on-line up date
http://teamean.wordpress.com/2009/02/18/teknik-pembenihan-udang-windu/) (verified 21 Oktober 2011).
LAMPIRAN
Gambar. ablasi udang windu
Gambar tong/ bak pemijahan
Gambar. Selang sepiral
Gambar. Beaker glass
Gambar. Seser pemanenan naupliu
Gambar. Ember pengangkut
naupli
Gambar. Baskom
Ganbar.Induk udang windu
Gambar. HIBLOW
Gambar. Sesr induk
Gambar. Penjepit mata udang
Gambar. Penyiponan kotoran induk
udang
Gambar. Filter bag
Gambar. Suci hama induk udang windu
Gambar. Senter penerangan saat
balasi
Gambar. Proses pengisian air untuk
proses pemijahan
Gambar. Seleksi induk udang windu
Gambar. Pencucian induk udang
Gambar. ciduk
Gambar. Refractometer
Gambar. Pompa air
Maaf kalo mash banyak kesalahan
BalasHapus