Kamis, 08 Desember 2016

Laporan Prakerin SMKN 3 BERAU Tahun 2012 Balkpapan UPTD BB SAPAL MANGGAR




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Praktik Kerja Industri merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para taruna SMK Negeri 3 Berau, yang memadukan antara pendidikan disekolah dengan pendidikan didunia usaha.Industri yang diperoleh dengan melakukan praktik kerja secara langsung dan terarah untuk menambah keahlian tertentu.Tujuan utama pendidikan kejuruan adalah mempersiapkan lulusan untuk dapat bekerja secara mandiri dan salah satu syarat untuk memenuhi kelulusan.

      Praktik  kerja  industri  (PRAKERIN)  dilaksanakan  di  UPTD. BB SAPAL Manggar Balikpapan, yang  merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dalam bidang pembenihan dan pemeliharaan dibawah pengolahan (pembinaan teknis administratif) Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Timur.
      UPTD.  BB  SAPAL  Manggar  Balikpapan  sebagai  tempat  praktik  kerja  industri  taruna/taruni  program  keahlian  Agribisnis  Perikanan  karena  sesuai  dengan  jurusan  yang  ditekuni. Di Balai  Benih  SAPAL  Manggar  Taruna/I  dibagi  dalam  beberapa  divisi  yaitu  bagian  distribusi  air  dan  kualitas  air,  penanganan  induk,  pemeliharaan  larva,  kultur  plankton,  kultur  artemia  dan  kultur  murni.  Dari beberapa  divisi  tersebut  penulis  mendapatkan  tugas  pada  bagian pemijahan  induk.  Pemijahan  induk  mencakup  tentang  bagaimana  cara  teknik  memijahkan 
 induk  dan  penanganan  telur  dengan  baik   agar  mendapatkan  hasil  yang  memuaskan  selama  proses  pembenihan.

B.     Tujuan Kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin)
1.   Menambah pengetahuan dalam usaha pembenihan udang windu.
2.    Mempraktikkan teori yang telah dipelajari dibangku sekolah.
3.    Mengetahui sejauh mana peran BB SAPAL Manggar dalam mendistribusikan benih Udang Windu bagi masyarakat.
4.    Sebagai  syarat  standar  kelulusan  sekolah.

C.    ManfaatKegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin)
1.   Taruna dan Taruni  mampu menghadapi dan memecahkan persoalan yang muncul dilapangan dengan lebih bijak.
2.   Taruna dan Taruni  memperoleh pengalaman bekerja dalam menangani budidaya/pembenihan udang windu.
3.   Taruna dan Taruni  mendapat pembelajaran sebagai langkah awal untuk masuk dalam lingkungan masyarakat.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Taksonomi UdangWindu (Penaeus monodon)
Menurut Darmono (1993), taksonomi udang windu (Penaeus monodon) adalah sebagai berikut :
Phyllum                            : Arthropoda
      Sub Phyllum                     : Mandibulata
      Class                                 : Crustaceae    
      Devisi                               : Malacostraca
      Ordo                                 : Decapoda
      Sub Ordo                         : Natanita       
      Family                              : Panaeidae
      Sub Family                       : Penaenae
      Genus                               : Penaeus
Spesies                             : Penaeus monodon

            Udang Windu digolongkan dalam jenis organisme Eurihalin/ Organisme air yang hidup dikisaran kadar garam 3 – 45 ppt (pertumbuhan yang optimal pada salinitas 15 – 30 ppt). Organisme ini aktif pada malam hari, dan pada siang hari lebih suka membenamkan diri ditempat yang teduh dan berlumpur.

         Habitat udang windu di alam yaitu diperairan payau dan laut, misalnya muara sungai, pantai dan perairan dalam/laut dalam.Semakin dewasa udang maka semakin menyukai hidup di dasar laut.Pada umumnya udang yang sudah dewasa biasanya pindah perairan  yang dalam dan hidup berkelompok.
            Kulit atau cangkang udang windu tidak elastis dan selalu berganti kulit selama masa pertumbuhan.Udang yang berganti kulit biasanya tidak banyak bergerak dan bermata suram karena pengaruh hormon pergantian mata udang.Frekuensi pergantian kulit udangtergantung pada jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi.Usia dan lingkungan pada kondisi yang baik maka udang windu dapat melakukan pergantian kulit setiap bulan sekali. Semakin tua usia udang maka semakin jarang untuk berganti kulit dan dalam habitatnya udang windu dapat mencapai ukuran panjang 27 cm.

B.     Pemijahan Udang Windu(Penaues monodone)
Pemijahan  udang  windu  (penaues monodon)     akan  dilakukan  setelah  udang   mengalami  matang  gonad  atau  matang  telur. Pemijahan  udang  windu  sebenarnya  tidak  jauh  berbeda  dengan   pemijahan  ikan. Kegiatan  ini  pada  umumnya  biasanya   dilakukan  pada  saat  malam  hari.
Pemijahan  adalah  proses  perkawinan  bertemunya  antara  sel  sperma  dan  sel telur. Induk udang jantan mengeluarkan spermatozoa dari alat kelamin jantan (petasma) kemudian memasukannya ke dalam alat kelamin (telichum) udang betina. Setelah terjadi kontak langsung induk betina akanmengeluarkan sel telur sehingga terjadilah pembuahan.
  Pemijahan  juga  terbagi  dua  yaitu  pemijahan  secara  alami  dan  buatan  pemijahan  secara  alami  maksudnya  induk  yang  didatangkan  oleh  nelayan  dalam  keadaan  matang  gonad  ataupun  matang  telur,  Sedangkan  pemijahan  secara  buatan  yaitu  pemijahan  dengan  cara    mengablasi salah satu mata udang.  yang  bertujuan  untuk  mempercepat  proses  pematangan  gonad  pada  induk  udang.   Diperkirakan  1  ekor  induk  betina  bisa  menghasilkan  200.000-500.000  butir  telur.

C.    Morfologi Udang Windu (Penaeus monodon)
Menurut Darmono (1993), morfologi udang windu (Penaeus monodon) adalah sebagai berikut:
Keterangan :
1. Cucuk Kepala (Rostrum)                        7. Usus (Gut)
2. Mata Majemuk (Proventriculus)      8. Perut
3. Antena                                                    9. Hepato Pancrease
4. Mulut                                                           10. Ekor (Uropoda)
5. Kaki Jalan (Periopoda)                           11. Telson
6. Kaki Renang (Pleopoda)                         12. Anus
Gambar 1. Morfologi Udang Windu


Fungsinya keterangan  dari gambar .1
1.         Cucuk  kepala (Rostrum)  berfungsi  pertahanan  diri  terhadap  pemangsa  atau  predator.
2.         Mata  berfungsi  sebagai alat penglihatan pada induk udang windu.
3.         Antena  berfungsi  sebagai  alat  peraba  pada  udang  untuk  mengaetahui  lingkungan  sekita\nya.
4.         Mulut sebagai digunakan  untuk  makan.
5.         Kaki  jalan  (periopoda)  berfungsi  untuk  berjalan  di  dasar  perairan  atau  bak.
6.         Kaki  renang  (pleopoda)  berfungsi  berenang  diperairan.
7.         Usus  (gut)  berfungsi mencerna makanan.
8.         Perut  sebagai tempat menanpung makanan udang.
9.         Ekor  (uropoda)  berfungsi  sebagai  alat pembantu untuk berenang diperairan.
10.     Anus  berfungsi  untuk  membuang  kotoran  yang  ada  dalam  perut  udang.

1.      Kriteria Induk Udang Windu(Penaeus monodon)          
kriteria induk udang yang baik dalam proses produksi bisa dilihat di tabel.1 yang ada di bawah ini,
Tabel 1.Kriteria Induk  Udang Windu.
Induk Jantan ()
Induk Betina ()
Umur 7-10 Bulan       
Umur > 12 Bulan
Panjang tubuh 20-22 cm
Panjang tubuh 23-27 cm
Panjang kepala ±7 cm            
Panjang kepala ±9 cm
Berat tubuh 100-120 gram     
Berat tubuh 125-200 gram




2.      Jenis Kelamin Udang Windu
            Alat kelamin betina bernama thelicum dan terletak diantara dasar sepasangkaki jalan atau periopoda yang berfungsi untuk menyimpan sperma.    
                                    Gambar 2. Alat kelamin induk betina
Ø  Alat kelamin jantan bernama petasma dan terletak pada pangkal kaki renangke-1 (satu) yang berfungsi untuk mentransfer sperma.
                                    Gambar 3. Alat Kelamin Udang Jantan

3.      Syarat Fisik yang Baik untuk Induk Udang Windu
            Beberapa syarat fisik yang harus diperhatikan dalam melakukan seleksi pada induk udang windu (Penaeus monodon), yaitu sebagai berikut:
a.       Organ tubuh harus lengkap.
b.      Organ tubuh tidak cacat.
c.       Tubuh tidak ada bercak hitam.
d.      Punggung tidak patah/retak.
e.       Tubuh tidak ditempeli parasit, bakteri dan virus penyebab penyaki.t
f.       Tidak ada luka dalam.
g.      Tubuh tidak berlumut.
h.      Warna tubuh induk udang transparan.
4.      Kualitas Air  untuk  Proses  Pemijahan  Udang  Windu.
Berikut adalah beberapa parameter kualitas airyang baik untuk proses pemijahan udang windu  (penaues  monodon)
Tabel 2.Parameter Kualitas Air
Parameter Kualitas Air
Keterangan
Suhu
28 – 31°C
Salinitas
29 – 31 ‰
pH meter
7 – 8,5

















BAB III
METODE PRAKTIK

A.    Waktu dan Tempat
Kegiatan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) dilaksanakan di UPTD  BB  SAPAL  Manggar  terhitung  mulai    padatanggal 14 Mei 2011 sampai dengan 14 Juli 2011.Kelurahan Manggar, Kota Balikpapan, ProvinsiKalimantan Timur.
1.   Alat  dan  bahan
a.       Alat 
Beberapa  alat  yang  digunakan  selama  proses  pemijahan  induk  udang  windu  (penaues  monodon)  sebagai  berikut:

Tabel 1. Alat dan fungsinya
No
Alat
Fungsi alat
1
Refraktometer
Untuk mengukur salinitas kadar garam dalam melakukan  pemijahan udang windu, memiliki panjang 20 cm memiliki lensa dan kaca prisma dan dapat mengukur kadar garam dari 0 – 60 ppt
2
Thermometer
Untuk mengukur suhu, memiliki nomor keterangan suhu 0 – 100 C
3
pH tes
Berbentuk seperti tabung kecil mempunyai indikator warna pH  Untuk mengetahui kenetralan air
4
timbangan
Digunakan  untuk  menimbang  pakan pada induk udang timbangan yang digunakan timbangan duduk
5
Filter  bag,
Menyaring  kotoran  pada  saat proses  pengisian  air.
6
Penjepit mata udang
Digunakan  untuk  memotong  salah  satu  mata
Udang
7
Seser  induk
Digunakan  untuk  mengambil  induk dengan ukuran jaring seser 1 inci 
8
Senter
Digunakan  untuk  penerangan saat  proses  ablasi
9
HI Blow 100
Sebagai  penyuplai  oksigen dengan kekuatan penyuplaiyan oksigen HP 90 watt
10
Ember
Untuk  pengangkutan  naupli. terbuat dari plastik memiliki pegangan
11
Baskom
Penyimpanan  sementara  naupli,  pada  saat  proses  penyiponan. Terbuat dari plastik berbentuk bulat.
12
Pompa  air
Digunakan  sebagai  penyuplai  air dan mengalirkan air pada bak yang digunakan dalam proses produksi
13
Selang  sepiral
Sebagai  alat  pembantu  penyedot  naupli  pada  saat  proses  pemanenan naupli. Terbuat dari plastik, berwarna biru dan terbuat dari plastik memiliki panjang 2-3 meter
14
Selang  sipon
Digunakan  untuk  penyiponan  kotoran yang ada dalam bak induk udang
15
Beaker  glass
Digunakan  untuk  sebagi  alat  pengamatan  telur  udang  yang  telah  menetas berbentuk tabung terbuat dari kaca dan memiliki nomor indicator
16
Ciduk
Sebagai  alat  pengaduk  telur  induk  udang. Terbuat dari plastik berbentuk bulat
17
Glass  sampling
Untuk  mengambil  sempel  naupli  yang  akan di hitung ukuran glass sampling 10 ml
18
Sendok 
Sebagai  alat  penghitung  naupli
19
Moulsa
Sebagai  alat  penutup  bak  pemijahan
20
Seser 200  mikron
Digunakan  untuk  alat  pemanen  naupli.
21
Bak pemijahan
Digunakan untuk tempat pemijahan yang terbuat dari fiber glass

b.      Bahan
Beberapa  bahan  yang  digunakan  selama  proses  pemijahan  induk  udang  windu  (penaues  monodon)  sebagai  berikut:

Tabel 2. Bahan dan fungsinya
No
Bahan
Fungsi  Bahan
1
Air
Sebagai  media pemijahan induk udang
2
Erytromicine
Sebagai  antibiotik pada  induk  udang
3
Cacing laut
Pakan  pada  induk  udang di berikan pada saat setelah induk di pindahkan ke bak penampungan induk udang
4
Deterjen
Membersihkan  bak dan peralatan yang digunakan dalam proses pemijahan
5
Induk  udang
Sebagai  bahan  untuk  dilakukan  pemijahan

B.     Metode Kegiatan Praktik
1.         Pengamatan
Melihat dan memperhatikan para pembimbing lapangan memberikan penjelasan mengenai proses pemijahan udang windu, agar dalam melaksanakan proses pemijahan udang windu mendapatkan hasil yang diinginkan
2.         Praktik
Melakukan kegiatan pemijahan di awali dengan melakukan berbagai kegiatan yaitu:
a.             PersiapanWadah
Wadah yang digunakan dalam proses pemijahan berbagai macam. Sebelum dilakukan proses pemijahan pertama-tama harus di bersihkan dengan menggunakan deterjen secukupnya wadah yang digunakan diantaranya.
1)         Bak penampungan air
           Bak penampungan air terbuat dari beton dengan kapasitas.±150 ton Wadah ini digunakan untuk menampung air yang akan digunakan untuk proses produksi. Sebelum digunakan bak penampungan air terlebih dahulu dicuci menggunakan deterjen lalu dibersihkan menggunakan lap apabila kotoran tersebut mudah dibersihkan, namun jika kotoran tersebut sulit dibersihkan maka untuk membersihkanya menggunakan sikat. Kemudian dibilas dengan air bersih dandikeringkan hingga bau deterjen tersebut hilang. Lalu di isi air untuk proses produksi.
2)         Bak penampungan induk udang windu
               Bak penampungan induk udang windu terbuat dari semen/beton berbentuk persegi dan memiliki ukuran 6m x 4m x 1,5 m.dengan kapasitas ±36 ton bak ini digunakan untuk menampung induk yang akan dipijahkan. Sebelum digunakan terlebih dahulu dicuci menggunakan deterjen secukupnya dan dibersihkan menggunakan lap dan kotoran yang sulit dibersihkan seperti lumut maka dibersihkan menggunakan sikat. Kemudian dikeringkan hingga bau deterjen tersebut hilang, dan di isi air untuk digunakan sebagai penampungan induk.
3)         Bak pemijahan
         Bak pemijahan terbuat dari fiberglass atau berupa tong-tong kecil, yang digunakan untuk memijahkan induk udang windu yang telah MT (matang telur/matang gonad) dengan ukuran tinggi ± 100 cm  dan berkapasitas 345 liter. Sebelum digunakan tong pemijahan dicuci terlebih dahulu menggunakan deterjen secukupnya dan dibersihkan menggunakan lap  kemudian dibilas dengan air bersih dan dikeringkan hingga bau deterjen tersebut menghilang lalu di isi air dan diberi aerasi.                                                               
4)         Bak penetasan telur
Bak penetasan telur terbuat dari fiberglass dan berbentuk kerucut dengan diameter 70 cm, dan tinggi 100 cm. bak ini digunakan untuk menetaskan telur hasil perkawinan udang windu.Sebelum digunakan tong pemijahan dicuci terlebih dahulu menggunakan deterjen secukupnya dan dibersihkan menggunakan lap  kemudian di bilas dan dikeringkan hingga bau deterjen tersebut menghilang lalu diisi air untuk proses penetasan telur induk udang windu.

b.         Seleksi Induk Udang Windu

        Calon  induk  udang diperoleh  dari  hasil  tangkapan  nelayan  harus  diseleksi  terlebih  dahulu  agar  dapat  diperoleh  calon  induk  sesuai  dengan  persyaratan  dalam  proses  pemijahan. Calon induk yang tiba pada pagi hari kurang lebih jam 9 pagi di tangkap satu persatu kemudian dilihat tingkat kematangan gonadnya, apabila dibagian punggung sudah terlihat  telur yang berwarna hitam kecoklatan dan tebal maka induk tersebut memenuhi persyaratan dalam proses pemijahan. Kemudian induk yang telah diseleksi dimasukkan ke bak penampungan sementara. Setelah itu dibiarkan dan ditutup menggunakan moulsa atau kain yang berwarna hitam sebelum dilakukan proses adaptasi cucihama dan proses pemijahan.


c.          Proses cuci hama induk udang
     Pada pukul 18:00 wita atau sore hari dilakukan proses cuci hama induk udang dengan menggunakan bahan Erytromicine dengan dosis 10 ppm. Erytromicine tersebut dituangkan ke dalam seser yang berukuran 200 mikron lalu dikucek di dalam bak yang berisi induk udang.setelahErytromicine sudah dikucek kemudian diberikan aerasi selama kurang lebih 1 jam dengan tujuan agar Erytromicine yang telah dimasukkan dapat larut dengan baik.Erytromicine berfungsi untuk membunuh sebagian bibit penyakit yang ada pada permukaan tubuh udang. Kemudian bak kembali di tutup menggunakan moulsa atau kain yang berwarnah gelap. sambil menunggu waktu di lakukan pemijahan.

d.       Pemijahan induk udang

Pada pukul 19:00 wita atau 1 jam setelah proses cuci hama   induk yang sudah matang gonad diambil menggunakan seser dan dibilas dengan air bersi agar kotoran yang menempel dapat hilang Sebelum induk  dimasukkan ke dalam bak pemijahan. Setelah itu bak pemijahan  ditutup menggunakan kain yang berwarna gelap seperti warna hitam. induk udang benar-benar matang gonad diperkirakan akan melepas telur pada malam hari dari jam 23.00-02-00. pada pagi hari dilakukan pengontrolan induk yang telah melepas telurnya kemudian seluruh induk dipindahkan ke bak penampungan induk/bak pemeliharaan induk. Parameter  Kualitas untuk pemijahan, suhu30˚C,  salinitas29 ppt, pH 7.
e.             Penanganan  telur 
Pada pukul 06:00 pagi setelah induk di pindah lalu sisa-sisa kotoran atau placenta induk udang  yang menempel pada bagian dinding bak  bersihkan menggunakan lap, sedangkan kotoran yang melayang-layang di dalam bak di bersihkan menggunakan seser khusus pembersih kotoran induk.
Setelah kotoran sudah dibersihkan dan selama proses penetasa telur dilakukan pengadukan dengan menggunakan ciduk setiap ½ jam sekali, telur yang terdapat dalam tong akan menetas sebagian pada jam 12.00. setelah sebagian telah menetas pengadukan di hentikan kemudian bak di tutup kembali menggunakan moulsa dan ditunggu hingga esok harinya dilakukan proses pemanenan naupli.













BAB IV
KEADAAN  UMUM  LOKASI  PRAKTIK

A.    Letak  Geografis
Dilihat  dari  letak  geografisnya,  UPTD  Balai  Benih  Sentral  Air Payau  dan  Air  Laut  Manggar terletak dibagian  tengah  pantai  timur  pulau  Kalimantan  tepatnya  di  wilayah  kota  Balikpapan,  dengan  lokasi sebagai  berikut:
·         Desa                                                                :  Manggar
·         Kecamatan                                                      :  Balikpapan  Timur
·         Kota                                                                :  Balikpapan
·         Jarak  dari  Ibukota  Provinsi                          :  ± 112 km  
·         Jarak  dari  pusat  kota Balikpapan                 :  ±  17 km      
·         Jarak  dari  bandara  Sepinggan                      :  ±  5 km
B.     Bidang  Usaha
UPTD  BB  Sapal  Air  Payau  dan  Air   Laut  Manggar  merupakan  salah  satu  unit  plaksana  teknis  dan  pengembangan  Balai  Benih  Sentral  Air  Laut  dan  Air  Payau  Manggar  di  bawah  koordinasi  Dinas  Kelautan  dan  Perikanan  Pemerintah  Kalimantan  Timur  bekerjasama  dengan  pihak  swasta  sebagai  pengelola  produksi  benur.

C.     Struktur Organisasi UPTD BB Sapal Manggar, Balikpapan

Ir. R. Aj. Esti Wahyuni, M.Si
Kepala UPTD BB SAPAL
Ir. Arie Subowo
Ka. SUB TU

Ir. Farid Wajdi Rahim, MP
Ka. Prod Benih dan Induk

Endang Sri Hastuti, A,Pi
Ka. Standarisasi Mutu Benih
Kegiatan Administrasi

Kegiatan Teknis

Petugas Urusan Pompa Air
Rubby Andrie
Petugas Urusan Umum Adm
a.       Rolian Junaidi, S.St
b.      Diana Sariana Ria
Petugas Pemeliharaan Induk
Andi Sudarto

Petugas Urusan Mesin
Sopar Sarumpaet

Petugas Urusan Keuangan
Saidillah


Petugas Urusan Kepegawaian
Mei Lien Syukri
Petugas Alat Pembenihan
a.       Anam Sudarto
b.      Marjuki
Petugas Urusan Perlengkapan
Hamdani
Petugas Kultur Artemia & Plankton
a.       Riki Aprianto
b.      Sabriansyah

Petugas Jaga Malam
Sudarji


Petugas Pemeliharaan Larva
a.       Abdullah BR, S.Pi
b.      Fandi Suroko

Petugas Laboratorium
Rudi Kusuma



BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Pelaksanaan kegiatan praktik kerja industri  (Prakerin)  pemijahan induk udang windu  di  UPTD  BB  SAPAL  Manggar diproleh pemijahan induk udang windu sebagai berikut:
1.      PenangananIndukUdangWindu
a.       Pada jam 09:00 induk yang datang kemudian di seleksi induk
b.      Pada jam 18:00 sore hari di lakuakan proses cuci hama pada induk udang menggunakan bahan Erytromicinedengan dosis 10 ppm.
2.      Proses  PemijahanInduk Udang
a.       Pada jam 19:00 induk matang gonad dipindahkan pada bak pemijahan
Table 3.data pemasukan induk udang
Tanggal
Indukmatang gonad
29 mei 2011
10 ekor
31 mei 2011
24 ekor
6 juni 2011
7 ekor
Jumlah
41ekor

b.      Induk yang benar-benar matang gonad diperkirakan melepas telurnya kurang lebih 4 – 8 jam setelah induk dipindahkan ke dalam bak pemijahan.
c.       Induk melepas telur ditandai dengan buih berwarna orange pada air dan dinding bak. Jumlah induk yang melepas telu ryaitu 34 ekor induk, sedangkan induk yang tidak melepas telurnya yaitu 7ekor  dari total induk yang digunakan sebanyak 41 ekor.

3.      Penanganan telur
a.       Pagi hari dilakukan pengontrolan dan pemindahan induk udang ke bak pemeliharaan induk,  Pembersihan placenta pada dinding bak penetasan telur.
b.      Pengadukan telur setiap setengah jam skali
c.       Sebagian telur akan menetas ± 6 s_d 24 jam menjadi naupli.

B.     Pembahasan
1.      Penanganan induk udang windu
Induk yang datang kemudian diseleksi. induk udang satu persatu ditangkap untuk melihat tingkat kematangan gonadnya. Apabila pada bagian punggung udang sudah terdapat telur yang berwarna hitam kecoklatan dan tebal maka induk memenuhi syarat dalam proses pemijahan.

Setelah dilakukan seleksi induk dilakukan cucihama dengan menggunakan bahan Erytromicine dosis 10 ppm. Erytromicine dituangkan kedalam seser kemudian dikucek. Lalu diberi aerasi selama kurang lebih 1 jam agar Erytromicine dapat terlarut dengan baik. Erytromicine berfungsi membunuh sebagian bibit penyakit pada permukaan tubuh udang windu. Bak ditutup kembali sambil menunggu waktu pemijahan.
2.      Pemijahan induk udang windu
Induk udang tersebut sebelum dipindahkan ke bak pemijahan terlebih dahulu dibilas dengan menggunakan air bersih untuk membersihkan kotoran yang ada disekitar permukaan tubuh induk udang. Setelah dibilas  kemudian di pandahkan kedalam bak pemijahan dan ditutup menggunakan kain yang berwarna gelap atau kain yang berwarna hitam.
Induk yang benar-benar matang gonad diperkirakan akan melepas telurnya  ± 4 s/d 8 jam
Induk yang telah melepas telurnya biasanya ditandai dengan adanya placenta yang berwarna orange menempel pada dinding bak atau yang melayang-layang di dalam bak, Sedangkan induk udang yang tidak melepas telurnya masih terlihat telur yang ada pada punggung udang berwarna hitam kehijauan, biasanya disebabkan karena induk yang belum mengalami tingkat kematangan gonad yang tidak baik masih dalam tahap tingkat II telur yang ada pada punggung udang masih tipis.  Kualitas air juga sangat berpengaruh bagi proses pemijahan.  Kualitas  untuk pemijahan adalah, suhu  30˚C, salinitas29ppt, pH 7.

3.      Penanganan telur
            Setelah induk telah di pindahkan kedalam bak penampungan induk kemudian dilakukan pembersiahan kotoran atau placenta yang menempel pada dinding bak ataupun yang melayang-layang di dalambak. Kotoran yang menempel pada dinding bak dibersikan menggunakan lap, sedangkankotoran yang melayang-layang di dalam bak dibersihkan menggunakan seser khusus pembersih kotoran induk udang. Setelah selesai membersikan kotoran induk udang, kemudian di lakukan pengadukan teluru dengang menggunakan ciduk. Setiap setengah jam sekali. Pengadukan ini bertujuan agar telur tidak memgendap di dasar bak atau wadah. Sebagian  Telur diperkirakan akan menetas pada jam 12:00 keesokan harinya. Setelah sebagian telur telah menetas pengadukan pun dihentikan. Kemudian bak kembali ditutup menggunakan moulsa atau kain yang berwarnah hitam.





















BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Dari hasil kegiatan praktek kerja industri dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.         Kelengkapan sarana dan prasarana penunjang sangat berpengaruh dengan keberhasilan produksi.
2.         Kualitas air yang baik sangat menentukan suksesnya suatu proses pemijahan  Udang windu.
3.         Dalam peroses pemijahan udang windu terjadi kegagalan akibat induk yang belum matang gonad yang maksimal misalnya telur yang ada di punggungnya masi tipis atau tingkat II.
4.         Induk yang benar-benar matang gonad di perkirakan akan melepas telurnya pada jam 23:00-03:00
B.     Saran
Selama pengamatan dan hasil kegiatan prakerin di BB SAPAL manggar, balikpapan yang perlu diperhatikan adalah :
1.      Sarana-sarana penunjang seperti alat-alat hartus selalu dirawat dan dibersihkan demi untuk kelancaran produksi.
2.      Wadah yang di gunakan harus di perbanyak lagi agar mempercepat dalam proses pemijahan
3.      Transportasi dilengkapi untuk memperlancar jalannya proses produksi







DAFTAR PUSTAKA

Morfologi dan Klasifikasi Udang Windu. 2009. (Available on-line up date at http://ardivedca.blogspot.com/makalah-budidaya-pakan-alami_08.html) (verified, 21 Oktober  2011).
Darmon. 1993. Pemjahan Udang Windu (Penaeus monodon). (Available on-line up date http://teamean.wordpress.com/2009/02/18/teknik-pembenihan-udang-windu/) (verified 21 Oktober 2011).





















LAMPIRAN

Gambar. ablasi udang windu

Gambar  tong/ bak pemijahan


Gambar. Selang sepiral

Gambar. Beaker glass


Gambar. Seser pemanenan naupliu

Gambar.  Ember pengangkut naupli


Gambar. Baskom

Ganbar.Induk udang windu
Gambar. HIBLOW

Gambar. Sesr induk
Gambar. Penjepit mata udang

Gambar. Penyiponan kotoran induk udang


Gambar. Filter bag

Gambar. Suci hama induk udang windu


Gambar. Senter penerangan saat balasi


Gambar. Proses pengisian air untuk proses pemijahan
Gambar. Seleksi induk udang windu

Gambar. Pencucian induk udang


Gambar. ciduk

Gambar. Refractometer





Gambar. Pompa air



1 komentar: